Jumat, 04 Juli 2014

INDAHNYA PANORAMA ALAM KABUPATEN KEBUMEN

Kebumen merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang memiliki banyak sekali potensi alam yang sangat Indah. Salah satunya adalah Pantai Menganti. Berikut akan saya tampilkan beberapa gambar saya di Pantai Menganti :
Indahnya Matahari terbenam di Pantai Menganti - Kebumen.

Indahnya Pemandangan di Pantai Menganti - Kebumen

Indahnya pemandangan di Pantai Menganti - Kebumen

Indahnya Pemandangan di Pantai Menganti - Kebumen

Indahnya Pemandangan di Pantai Menganti - Kebumen

Kamis, 26 Juni 2014

BAGI STIKER DI SIMPANG LIMA SEMARANG

Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkoba Internsional (HANI) saya bersama rekan saya dari organisasi EneRC (Engineering and Research Club) Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang memberikan stiker gratis kepada orang-orang yang berada di kawasan simpang lima Semarang.

Pembagian stiker ini dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada para pemuda Semarang khususnya dan semua pemuda di Indonesia umumnya, agar menjadi semangat meraih cita-cita tanpa narkoba. Karena DUNIA AKAN INDAH TANPA NARKOBA.

Acara pembagian stiker dilakukan dari pukul 07.00 wib sampai dengan pukul 09.00 wib sesuai dengan jadwal car freeday di simpang lima Semarang. Diharapkan dengan memperingati hari anti narkoba internasional ini bisa menumbuhkan generasi-generasi penerus yang bebas dari narkoba.


Gb. Setelah selesai melakukan pembagin stiker. Dari Kiri. Yudi Sutanto, Bimo Handoko, Lukmanur Hakim dan Adib Wahyu.

Jumat, 20 Juni 2014

PERAN PENDIDIKAN DALAM UPAYA PEMBERANTASAN BUDAYA KORUPSI DI INDONESIA


Korupsi ilang, wani piro? Itulah kata yang sering kita dengar di televisi pada suatu iklan salah satu brand rokok di Indonesia. Pada iklan tersebut digamarkan seseorang yang sedang melamar pekerjaan akan tetapi ditolak karena korupsi, kolusi dan nepotisme. Kemudian ketika ia hendak pulang, di tengah perjalanannya ia tidak sengaja bertemu dengan sosok jin, kemudian jin tersebut memberikan satu buah permintaan pada orang tersebut. Dan orang tersebut meminta kepada jin tersebut agar menghilangkan kasus korupsi, kolusi dan nepotisme di Indonesia. Namun apa jawaban dari jin tersebut, jin tersebut menjawab, “Korupsi ilang, wani piro?” Pada iklan ini digambarka bahwa begitu sulitnya menghilangkan budaya korupsi di Indonesia, bahkan sampai pada kalangan jin di Indonesia pun melakukan hal tersebut, yang menunjukan bahwa untuk menghilangkan korupsi pun memerlukan korupsi itu sendiri. Jadi, akan sangat sulit untuk lepas dari kata korupsi itu.
Kemudian masih pada brand yang sama, juga membuat suatu iklan yang menyinggung masalah korupsi, kolusi dan nepotisme, namun pada iklan kali ini konsepnya berbeda. Kali ini dengan konsep pertunjukan sulap, masih dengan tokoh yang sama yaitu jin. Sang jin menunjukan aksinya yaitu menghilangkan setumpuk kertas. Kemudian sang jin berkata, “Kasus korupsi, ilang.” Dan semua penonton bersorak-sorak bahkan ada yang bersorak “Ajaib-ajaib.” Yang menggambarkan bahwa jika kasus korupsi di Indonesia sampai benar-benar bisa hilang, itu merupakan suatu hal ajib, hal ajaib biasanya identik dengan hal yang tidak mungkin. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kasus korupsi di Indonesia tidak akan pernah bisa hilang, bahkan sudah menjadi semacam tradisi atau kebiasaan pada masyarakat Indonesia. Yang mana tradisi, kebiasaan dan adat istiadat merupakan bagian dari budaya, maka dari itu ada istilah budaya korupsi di Indonesia. Yang mana korupsi itu dianggap sudah menjadi budaya bangsa Indonesia karena korupsi di Indonesia sudah secara turun temurun, dari generasi ke generasi berikutnya akan selalu ada kasus korupsi di Indonesia. Korupsi itu sendiri merupakan budaya yang negatif, maka perlu untuk diberantas dari masyarakat Indonesia.
Memberantas Budaya Korupsi di Indonesia
Untuk menghilangkan sesuatu, tentu yang harus kita lakukan adalah mengetahui sebab-sebab mengapa sesuatu itu ada. Begitu juga dengan korupsi, kita harus tahu mengapa korupsi itu ada atau dengan kata lain mengapa oknum atau seseorang yang mempunyai wewenang itu menyalah gunakan untuk melakukan tindakan korupsi. Tindakan korupsi dipengaruhi oleh banyak factor, salah satunya adalah sikap koruptif masyarakat Indonesia sendiri. Sikap koruptif ini sendiri nampaknya sudah sangat melekat pada msayarakat Indonesia. Sikap korupsi ini bisa berupa korupsi waktu. Korupsi waktu ini bisa kita perhatikan saat rapat, saat kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah maupun di perguruan tinggi, saat ada acara tertentu semacam tasyakuran atau yang lain, semua pasti terulur-ulur waktunya, saat rapat banyak anggota yang telat datang pada rapat, bahkan tidak hanya anggotanya saja yang terlambat, malah terkadang orang dengan posisi yang urgent itu turut terlambat menghadiri rapat. Kemudian pada saat kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, banyak siswa yang telat dan ironisnya bukan hanya siswanya yang telat, tapi banyak guru atau tenaga pendidik yang datang terlambat dengan alasan ini dan itu menyangkut kepentingan pribadinya. Tidak hanya korupsi waktu yang menunjukan sikap koruptif masyarakat Indonesia. Sikap koruptif masyarakat Indonesia juga bisa digambarkan dengan siswa ataupun mahasiswa yang masih rajin mencontek. Ia berorientasi pada nilainya, yang berarti dia mementingkan dirinya untuk mendapatkan nilai yang baik apapun caranya. Ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang baik, meskipun dengan cara mencontek. Sangat ironis bukan ketika siswa atau mahasiswa mengembor-gemborkan kata “Koruptor hukum mati.” Namun ia tetap saja mencontek. Dan ketika ia ditanya siapkah untuk tidak mencontek, semua diam, yang mana itu menunjukan bahwa ia tidak siap untuk tidak mencontek. Dan ini sama saja meminta orang lain untuk tidak korupsi, tapi ia sendiri malah korupsi. Jika dikembalikan pada konteks korupsi yang sebenarnya, memang itu tidak bisa dikatakan sebagai koruptor atau orang yang melakukan korupsi, karena korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. (Sumber: KBBI Online) Namun demikian, jika kita kaitkan dengan kepribadian koruptor yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum, kemudian ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang ingin dicapainya, maka tidak akan jauh beda dengan guru atau tenaga pendidik yang datang terlambat, ia mementingkan kepentingan pribadinya daripada kepentinga umum atau kepentingan para siswa, begitu juga dengan siswa yang mencontek saat mengerjakan tugas, atau saat mengerjakan ujian. Ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang baik, ia tidak memperhatikan resiko yang akan ditanggung temannya yang diconteki, bisa nilainya dibagi dua jika ketahuan atau bahkan bisa juga sama sekali tidak diberi nilai. Hal ini sama dengan koruptor yang tidak memperhatikan resiko yang akan dihadapi negara dan rakyat, rakyat akan sengsara dan negara akan merugi dalam jumlah yang besar, ia hanya peduli pada dirinya sendiri, yang ia prioritaskan adalah kepentingannya bisa tercapai. Sikap koruptif seperti inilah yang harus sejak awal diberantas.
Memberantas Sikap Koruptif Masyarakat Indonesia
Seperti yang sudah kita bahas di atas, bahwa salah satu penyebab terus menerus adanya tindakan korupsi di Indonesia adalah sikap koruptif bangsa Indonesia itu sendiri yang mana seakan-akan itu sudah sangat melekat dengan masyarakat Indonesia yang seolah-olah bahwa itu sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari kepribadian bangsa Indonesia yang memiliki sikap koruptif itu. Di sini peran pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan karakter sangat penting. Pada pendidikan kewarganegaraan ini, siswa akan diajarkan tenang kewarganegaraan itu sendiri diantaranya adalah hak dan kewajiban warga negara, tentang dasar-dasar negara, wawasan nusantara dan lain sebagainya. Selain itu dalam pendidikan kewarganegaraan juga diharapkan akan membentuk generasi-generasi penerus yang benar-benar memiliki kecintaan terhadap Indonesia, sehingga manakala ia menjabat suatu pemimpin nanti ia tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan negara. Disamping  itu, pendidikan kewarganegaraan  juga menanamkan nilai-nilai moral yang baik, yang akan menjadikan seseorang lebih baik dari segi moralitasnya. Yang diharapkan akan membentuk karakter generasi penerus menjadi lebih baik. Karena apa dalam pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan karakter ini ditanamkan kepada siswa nilai-nilai moral, agama, dan karakter antikorupsi. Karakter anti korupsi dalam dunia pendidikan bisa diwujudkan dengan penanaman sikap anti mencontek, anti terlambat, anti tidak mentaati aturan sekolah dan lain sebagainya berkaitan dengan hal yang negatif di sekolah. Memang dengan mencontek siswa bukan berarti korupsi, tapi dengan mencontek siswa berarti telah melakukan sikap korupsi atau perilaku yang mencerminkan perilaku koruptif. Namun sampai saat ini sepertinya pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan karakter masih kurang begitu efektif untuk memberantas korupsi di Indonesia. Bahkan untuk memberantas perilaku koruptif di dunia pendidikan itu sendiri saja masih kurang efektif. Meskipun sudah ditanamkan, sudah diberikan pengertian tentang nilai-nilai moral, agama, dan sikap anti mencontek dan lain-lain, tapi masih banyak sekali siswa yang tetap saja mencontek, masih banyak sekali siswa yang terlambat, masih banyak sekali siswa yang tidak mentaati peraturan sekolah. Jika sikap koruptif seperti ini belum bisa terpecahkan, maka sampai kapanpun korupsi di Indonesia tidak akan pernah hilang. Karena generasi-generasi dengan sikap koruptif seperti itu juga akan menghasilkan calon-calon koruptor masa depan. Ini yang masih perlu kita benahi.
Selama ini, pelajaran pendidikan kewarganegaraan menjadi pelajaran yang kurang disukai oleh para siswa, entah karena pelajarannya yang memang membosankan, atau bisa juga cara penyampaiannya yang kurang menarik sehingga siswa terkesan enggan untuk mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan serius. Kemudian masalah pendidikan karakter juga belum benar-benar diterapkan dengan baik. Contoh saja ketika guru atau tenaga pendidik menggembor-gemborkan kepada siswa agar tidak terlambat sekolah, namun sangat ironis guru tersebut malah terlambat datang ke sekolah dengan alasan ini itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Kemudian guru memerintahkan siswa untuk tidak mencontek, namun ketika siswa mencontek guru membiarkan saja dan tidak ada sanksi yang tegas kepada pelaku pencontekan itu. Sehingga siswa merasa biasa saja ketika ia ketahuan mencontek. Adapun missal siswa tidak diberi sangsi berupa sangsi yang berhubungan dengan fisik, siswa bisa diberi sangsi yang berhubungan dengan akademik. Misalkan saja siswa diberi tugas tambahan untuk menari suatu artikel dan meresumnya atau denga diberi tugas tambahan dengan memberinya pekerjaan rumah yang mana itu boleh ia diskusikan dengan temannya. Sehingga jika suatu saat menjumpai soal yang sama, siswa yang tadi mencontek bisa mengerjakan secara mandiri. Selain dengan memberikan sangsi demikian, guru juga harus mengadakan pembicaraan secara intensif dengan siswa yang menontek, jika perlu didatangkan orang tuanya dan dijelaskan bahwa anak ini telah mencontek, mungkin itu bisa sedikit membuat siswa jera untuk mencontek. Yang membuat siswa tidak jera-jera dalam melakukan pencontekan adalah sangsi yang kurang tegas terhadap tindak pencontekan itu. Tidak hanya dalam konteks mencontek sebenarnya, akan tetapi juga dalam konteks keterlambatan dan pelanggaran tata tertib sekolah yang lain. Dalam konteks mencontek ini, ada salah satu penyebab mengapa siswa melakukan penontekan. Yaitu orientasi siswa masih pada nilai, jadi siswa berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat nilai baik, entah apapun caranya, entah ia benar-benar paham dengan materi yang diujikan atau tidak, yang siswa ingin kejar adalah nilai bukan ilmu.
Cara paing efektif untuk mengubah orientasi siswa ini adalah dengan mengubah mindset siswa itu sendiri. Mindset siswa harus diatur sedemikian rupa agar tidak lagi berorientasi pada nilai, tapi kembali pada ilmu yang akan ia peroleh, karena jika siswa telah menguasai banyak ilmu yang diajarkan, nilai siswa tentu akan mengikuti sesuai dengan ilmu yang siswa kuasai yaitu akan baik pula. Akan tetapi jika siswa masih berorientasi pada nilai, maka ilmu belum tentu akan mengikuti nilainya. Siswa yang mendapat nilai seratus karena mencontek, belum tentu lebih pintar daripada siswa yang mendapat enam puluh dengan hasil kerjanya sendiri. Selain dengan mengubah mindset parasiswa, penanaman nilai-nilai religious dan moral juga perlu dilakukan terhadap siswa. Penanaman nilai-nilai moral bisa disampaikan pada pelajaran apa saja dalam dunia pendidikan di Indonesia, namun yang paling utama adalah pada pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama, baik agama islam agama kristen maupun agama yang lain, di dalamnya terkandung nilai-nilai moral yang baik.
Dalam pendidikan agama islam, tidak hanya nilai-nilai moral yang disampaikan kepada siswa, akan tetapi juga penerapan ajaran-ajaran tentang akhlak, keimanan dan lain-lain. Yang mana dengan pelajaran pendidikan agama islam ini dihrapkan bisa memperkuat iman para siswa, dengan iman yang kuat tentu ia akan semakin menyadari bahwa apa-apa yang akan ia lakukan adalah mendapat pengawasan dari Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT. Selain mendapat pengawasan, ia juga akan semakin menyadari bahwa akan ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini, yaitu kehidupan akhirat, kehidupan yang abadi dan tiada akhir, sehingga di dunia ini ia memfokuskan untuk membaguskan akhlaknya. Dengan akhlak yang bagus itu, tentu ia tidak akan melakukan tindakan korupsi, karena korupsi sama saja dengan mencuri, dan mencuri adalah perbuatan yang dilarang oleh agama.

Tidak hanya itu yang bisa dunia pendidikan lakukan untuk upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Dalam sekolah-sekolah juga bisa diadakan seminar-seminar atau workshop tentang korupsi. Sehingga siswa sejak dini sudah menyadari tentang bahaya sikap koruptif yang siswa lakukan terhadap bangsa Indonesia. Karena sikap koruptif itu akan membentuk kader-kader koruptor yang siap untuk berkorupsi manakala ia mendapat wewenang untuk memegang suatu jabatan tertentu. Namun sayang, selama ini di sekolah-sekolah masih jarang sekali diadakan hal-hal yang semacam itu, seminar-seminar dan workshop tentang pentingnya memberantas budaya korupsi baru diadakan di dunia pendidikan tinggi. 

Sabtu, 10 Mei 2014

Taman Langit

Aku punya impian
Karena aku bisa bermimpi
Aku punya suara
Maka aku akan menyuarakan impianku
           Suara itu akan aku kirim ke langit
           Langit yang begitu luas
           Entah disudut mana suaraku akan terbang
Aku hanya bersuara
Mengeluarkan suara dari hati
Dari tujiuan akhir yang ingin kucapai
Disanalah taman langit berada…
Aku yakin langit kan mendengar semua suaraku
            Entah berapa banyak suara yang telah di dengar langit
            Barangkali ada kalanya langit mendengarkan suara-suara itu
            Ada kalanya pula langit tak mendengar suara-suara itu
Langit akan mendengar suara yang merdu, 
Sendu dari dalam hati
Bukan suara sumbang 
Walau sendu tapi meninggi
           Taman langit menjadi impian semua manusia
           Di sanalah tempat kembali terbaik
           Tidak bisa semua manusia ke sana
           Hanya mereka yang memiliki suara merdu untuk Tuhan
           Bukan suara merdu untuk dunia

By : Rois Al-Khasan

Pentingnya Sikap Menghargai Keberagaman Agama dalam Wawasan Nusantara

Powerpoint tentang Pendidikan Kewarganegaraan - Pentingnya Sikap Menghargai Keberagaman Agama dalam Wawasan Nusantara bisa temen-temen download Di sini. Terima kasih

Bab. V - Management Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Hai teman-teman? Apa kabar kalian hari ini. Semoga baik-baik saja yaa. Berhubung saya ada tugas dari dosen saya untuk membuat presentasi tentang Management Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, maka saya ingin mensharekan presentasi saya kepada temen-temen semua. Dan barangkali ada yang membutuhkan presentasi ini untuk bahan reverensi temen-temen semua, dan reverensi ini bisa temen-temen download Di Sini. Terima kasih,
 Wassalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Salam : Bimo Handoko

Peran Penting Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Siswa sebagai bagian dari komponen sekolah yang sangat riskan dari berbagai permasalahan baik masalah dari keluarga, masalah dari lingkungan, atau bahkan masalah dari sekolah itu sendiri. Dalam menghadapi atau menyelesaikan masalah-masalah tersebut, tentu seorang siswa tidak bisa jika harus berjalan sendirian. Tentu harus ada pembimbing maupun orang yang bisa untuk berkonsultasi. Ketika di rumah, siswa menjadi bagian dari sebuah keluarga, maka yang menjadi pembimbing dan tempat untuk berkonsultasi adalah orang tua dari siswa tersebut. Ketika masalah datang, anak bisa bercerita pada orang tuanya dan orang tuanya membimbingnya dengan member saran serta nasihat-nasihat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Begitu pula di sekolah, siswa bisa berkonsultasi pada wali kelas atau kepada guru BK atau kepada keduanya. Karena guru adalah orang tua bagi siswa di sekolah.Dra. Aas Saomah, M.Si membagi masalah menjadi 4 jenis, yaitu fisik, psikis, social dan kesulitan belajar. Masalah fisik bisa berupa cacat fisik yang mengakibatkan siswa megalami gangguan baik dalam proses belajar di sekolah maupun proses interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Masalah fisik ini mungkin akan sangat mengganggu siswa dalam proses belajar di sekolah, maka dibutuhkan sarana khusus untuk menunjang kelangsungan belajar mengajar untuk siswa yang mengalami cacat fisik. Sarana khusus yaitu bisa berupa SLB (Sekolah Luar Biasa) yaitu sekolah khusus untuk anak-anak yang mengalami kekurangan pada fisiknya. Guru yang mendidikpun harus guru luar biasa, karena dibutuhkan ketrampilan yang luar biasa, dan tidak hanya ketrampilan yang luar biasa yang dibutuhkan, akan tetapi juga membutuhkan kesabaran yang luar biasa pula. Sehingga tidak semua orang bisa menjadi pendidik maupun pembimbing bagi anak-anak yang mempunyai kekurangan fisik itu.Masalah psikis adalah masalah yang berkaitan dengan psikologi siswa atau ketidakmampuan siswa mengekspresikan dirinya yang tidak normal. Masalah-masalah psikis yang sering siswa alami antara lain gangguan konsentrasi, depresi, trauma, dan bias juga emosional. Emosional itu sendiri bisa berupa perasaan marah, senang, sedih, galau, dan sebagainya. Adapun depresi ini bisa disebabkan karena siswa memiliki banyak sekali permasalahan yang membebani pikirannya sehingga terjadi kekacauan dalam pikirannya, dan depresi ini juga bisa berakibat pada gangguan konsentrasi. Sementara trauma itu bisa disebabkan karena siswa pernah mengalami suatu hal yang mengejutkan, dan hal yang mengejutkan itu adalah hal yang tidak diinginkan oleh siswa, sehingga siswa mengalami ketakutan yang berlebih akan hal serupa terjadi kembali pada siswa tersebut. Sebagai contoh pada kasus JIS (Jakarta International School). Di Jakarta International School ini terjadi kasus pelecehan seksual, yang mana korban tidak pernah menduga hal ini akan terjadi, dan korban pada kasus pelecehan seksual ini bisa mengalami trauma dan kemudian bisa menganggap semua guru laki-laki adalah sama sepeeti guru yang memperlakukan si korban dengan tidak senonoh itu sehingga untuk selanjutnya si korban itu takut untuk berangkat ke sekolah karena si korban khawatir kejadian serupa akan terulang lagi pada dirinya.Kemudian masalah social adalah masalah yang berhubungan dengan perkembangan sosial siswa yang mana itu berhubungan dengan kemampuan anak atau siswa dalam berinteraksi dengan teman sebaya, orang dewasa, atau lingkungan pergaulan yang lebih luas. Dengan demikian, permasalahan siswa dalam bidang sosial juga berkaitan dengan pergaulan atau hubungan social. Adapun contoh dari masalah social yang sering terjadi pada siswa antara lain yaitu sikap manja, pemalu, kurang mampu beradaptasi, sikap negativisme, merasa paling berkuasa, perilaku merusak, dan sebagainya. Masalah-masalah siswa dalam bersosial di masyarakat ini juga akan terbawa ketika siswa tersebut harus bersosial di sekolah. Sebagai contoh dalam suatu sekolah pasti ada beberapa siswa yang mengaku menguasai sekolah tersebut seolah-olah ia adalah anak dari pemilik sekolah tersebut sehingga ia merasa paling berkuasa di sekolah tersebut. Ada juga siswa yang jail, yang suka menjahili teman-temannya di rumah, itupun biasanya akan terbawa ke lingkungan sekolah, sehingga di sekolah ia juga menjaili teman-temannya sehingga teman-temannya merasa terganggu. Bahkan lebih parahnya lagi jika siswa tersebut sampai berani menjaili gurunya, guru bimbingan dan konseling di sini di bantu dengan wali kelas dan guru mata pelajaran berperan untuk memberikan nasihat-nasihat dan motivasi agar siswa yang demikian bisa mengubah kebiasaannya, bila perlu siswa diberikan hukuman akan tetapi hukuman yang bersifat membangun mental dan sikap siswa menjadi lebih baik, bukan hukuman yang berhubungan dengan fisik seperti memukul siswa, menjemurnya di bawah tiang bendera atau yang lainnya.Dan yang terakhir adalah masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar pada anak dapat dimaknai sebagai ketidakmampuan anak dalam mencapai taraf hasil belajar yang sudah ditentukan dalam batas waktu yang telah ditetapkan dalam program kegiatan belajar, sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab siswa mengalami kesulitan belajar diantaranya adalah gangguan mental, siswa belum mampu menemukan metode pembelajaran yang sesuai untuk dirinya, siswa tidak cocok dengan guru pengampu mata pelajaran tertentu, dan sebagainya.Dari masalah-masalah tersebut, siswa tidaklah bisa berjalan sendirian untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri. Di sini lah peran bimbingan dan konseling diperlukan di sekolah. Tentu guru bimbingan dan konseling tidak bekerja asal-asalan saja, guru bimbingan dan konseling bekerja sesuai asas-asas dan prinsip-prinsip bimbingan konseling sehingga fungsi dan tujuan bimbingan konseling dapat tercapai.Sesuai dengan fungsi yang pertama, bimbingan konseling memiliki fungsi pemahaman. Dalam fungsi pemahaman ini ada beberapa hal yang harus dipahami oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling, antara lain seorang konselor atau guru bimbingan dan konseling harus memahami tentang klien atau siswa yang bermasalah. Apa yang harus dipahami? Yaitu tentang seluk beluk keluarganya, apakah siswa tersebut berasal dari keluarga yang broken home ataukah berasal dari keluarga yang harmoni, kemudian apakah siswa tersebut berasal dari keluarga yang mampu atau kurang mampu, tentang bagaimana anggota keluarganya dan semua informasi tentang keluarga siswa yang mungkin bisa didapatkan. Kemudian tentang kesehatan jasmaninya. Apakah siswa tersebut sedang sakit atau tidak, jika ia maka tugas guru bimbingan dan konseling adalah menelusuri kira-kira apa penyebabnya siswa tersebut mengalami sakit demikian. Kemudian tentang riwayat pendidikannya, dari mana sekolah asalnya, bagaimana kondisi sekolah asalnya, dan sebagainya. Selanjutnya tentang pengalaman belajar baik di sekolah maupun di rumahnya, apakah ketika di sekolah siswa tersebut termasuk siswa yang aktif apa sebaliknya? Dan yang selanjutnya tentang pergaulan sosialnya, bagaimana keadaan lingkungannya? Apakah lingkungnnya adalah lingkungan orang baik-baik saja ataukah lingkungan orang-orang yang kurang baik, dan sebagainya. Kemudian yang seorang guru bimbingan dan konseling pahami dari siswa adalah  tentang rencana pendidikan lanjut yang ingin siswa tempuh. Pada bagian rencana pendidikan lanjut yang akan ditempuh oleh siswa, peran bimbingan dan konseling adalah sebagai informator. Maksudnya adalah bimbingan dan konseling adalah tokoh yang memberikan informasi-informasi tentang perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri maupun swasta, ataupun juga instansi kedinasan seperti STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistika), STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara), dan lain-lain sebagainya. Tidak hanya sebagai informatory sebenarnya, guru bimbingan dan konseling juga membantu siswa dalam menentukan pilihan-pilihan di mana sebaiknya siswa tersebut melanjutkan dengan berbagai pertimbangan mengenai kemampuan siswa, kualitas perguruan tinggi yang akan dituju, dan juga minat bakat siswa. Dan tidak hanya itu, guru bimbingan dan konseling juga membantu dalam proses pendaftaran, mulai dari pengisian PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa), kemudian guru bimbingan dan konseling memberikan username dan password untuk login di laman yang telah ditentukan, dan membrikan pengarahan bagaimana langkah-langkah pendaftarannya. Kemudian selain memahami tentang tujuan pendidikan lanjut yang akan ditempuh, seorang guru bimbingan dan konseling juga harus memahami tentang kegiatan siswa di luar sekolah, dan tidak lupa tentang hobi atau hal-hal yang disenangi oleh siswa tersebut. Apakah siswa tersebut senang berolahraga dan olahraga apa yang disenangi oleh siswa tersebut, apakah siswa tersebut suka sepak bola, bulu tangkis, voli, berenang atau olahraga yang lain. Mungkin juga siswa tersebut memiliki hobi mendengarkan music, bisa juga memancing, dan sebagainya. Perlunya pemahaman seperti ini adalah agar guru bimbingan dan konseling bisa benar-benar memahami tentang diri kliennya, atau dalam konteks kita kali ini adalah siswa. Sehingga dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi siswa nanti akan bisa lebih efektif.Setelah seorang guru bimbingan dan konseling memahami kliennya, maka tugas seorang guru bimbingan dan konseling yang selanjutnya adalah memahami tentang masalah klien, yang terpenting dari pemahaman tentang masalah klien adalah menyangkut jenis masalahnya, intensitas masalahnya, sangkut pautnya, sebab musababnya, dan kemungkinan berkembangnya masalah yang dialami siswa jika tidak segera ditangani. Kemudian seorang guru bimbingan dan konseling juga harus memahami tentang lingkungan yang lebih luas, guna mendapatkan informasi tambahan yang bisa digunakan sebagai bahan referensi penyelesaian masalah siswa.Selain berperan memberikan fungsi pemahaman kepada siswa, bimbingan dan konseling di sekolah juga berperan memberikan fungsi pencegahan. Artinya bahwa bimbingan dan konseling di sekolah memberikan pencegahan terjadinya masalah pada siswa. Sebagai contoh kasus yang di Bali, siswi SMP Negeri 1 Tabanan, Bali, gantung diri setelah mengikuti ujian nasional matematika. Penyebabnya diduga karena siswi tersebut mengalami depresi setelah mengerjakan soal-soal matematika. Sesuai dengan fungsi pencegahan, peran bimbingan dan konseling di sekolah seharusnya bisa benar-benar dijalankan. Sehingga kasus seperti itu tidak akan terjadi. Bimbingan dan konseling di sekolah bisa memberikan motivasi-motivasi kepada siswa-siswinya, memberikan masukan-masukan, arahan-arahan, nasihat-nasihat, tentang bagaimana sikap siswa ketika menghadapi ujian. Selain itu bimbingan konseling juga bertugas untuk membangun mental siswa agar tidak mengalami tekanan berleih atau depresi sehingga kasus seperti itu tidak akan terjadi. Kerja bimbingan dan konseling ini tentu tidak bisa sendirian, harus dibantu oleh wali kelas dan guru mata pelajaran.Meskipun bimbingan dan konseling sudah memberikan fungsi pemahaman dan pencegahan, tetapi akan selalu ada siswa yang bermasalah, baik dari masalah yang kecil maupun yang besar. Ketika ada siswa yang bermasalah, maka tugas atau peran bimbingan dan konseling di sini adalah untuk mengentaskan siswa yang bermasalah tersebut dari masalah yang dihadapi. Bayangkan saja ketika siswa memili masalah, baik itu masalah di sekolah maupun masalah dalam sekolah, baik itu masalah besar maupun kecil, kemudian bimbingan dan konseling angkat tangan atau tidak mengurusi sama sekali, maka bisa jadi masalah tersebut akan segera membesar dan terus semakin besar yang pada akhirnya akan berakibat fatal bagi siswa yang bermasalah tersebut. Siswa tersebut bisa saja lari kepada minuman keras, narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya, atau bahkan lebih parah lagi siswa yang bermasalah tersebut bisa bunuh diri. Kalau terjadi hal seperti ini, siapa yang disalahkan? Maka dari itu, peran guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan untuk membantu siswa mengentaskan masalah-masalah yang dihadapi siswa sebelum hal buruk terjadi pada siswa.Kemudian peran penting bimbingan  dan konseling di sekolah yang terakhir adalah untuk memberikan fungsi pemeliharaan dan pengembangan. Maksudnya apa? Maksudnya adalah bahwa pelayanan bimbingan dan konseling disekolah itu diharapkan bisa membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Siswa bisa mengurangi hal-hal buruk yang ada pada dirinya melalui bantuan bimbingan dan konseling disekolah. Dan akan lebih baik lagi jika siswa bisa menghilangkannya, selain itu siswa juga bisa menjaga hal-hal baik atau segalanya yang bersifat positif dari siswa tersebut, dan akan lebih baik lagi jika siswa bisa mengembangkannya dan terus mengembangkannya sehingga siswa mempunyai hal-hal positif baru yang semula  belum siswa tersebut miliki. Kemudian dengan adanya bimbingan dan konseling di sekolah, diharapkan siswa rajin memanfaatkannya, untuk menggali potensi yang ada pada diri siswa tersebut, karena siswa tidak akan bisa menemukan potensi-potensi yang ada pada dirinya tanpa bantuan konselor atau guru bimbingan konseling di sekolah.

UJI KOMPETENSI SERVIS SEPEDA MOTOR INJEKSI

Memuat…