Selasa, 07 Februari 2017

CONTOH RPP TERBARU K-13 REVISI 2016 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMK KELAS X



Description: logo smk 6 th 2010
SMK NEGERI 6 SEMARANG
F-KUR.09
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah                   : SMK Negeri 6 Semarang
Mata Pelajaran        : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Kelas/Semester       : X/2
Materi Pokok          : Iman Kepada Malaikat
Alokasi Waktu        : 9 x 45 menit

A.  Kompetensi Inti
KI. 1.     Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya
KI. 2.     Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI. 3.     Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan  wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI. 4.     Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B.  Kompetensi Dasar
1.1.  Menghayati nilai-nilai keimann kepada malaikat-malaikay Allah Swt.
3.6.  Memahami makna beriman kepada malaikat-malaikat Allah Swt.
4.4.  Berperilaku yang mencerminkan kesadaran beiman kepada malaikat-malaikat Allah Swt.

C.  Indikator Pencapaian Kompetensi
1.    Mengidentifikasi makna beriman kepada Malaikat dari berbagai tinjauan
2.    Mengidentifikasi hikmah beriman kepada Malaikat dari berbagai tinjauan
3.    Menganalisis hubungan antara beriman kepada Malaikat dan perilaku teliti, disiplin dan waspada.

D.  Tujuan Pembelajaran
1.        Memahami makna beriman kepada malaikat dan tugas-tugasnya.
2.        Memahami hikmah beriman kepada malaikat.
3.        Mampu menerapkan perilaku mulia beriman kepada malaikat.

E.  Materi Pembelajaran
1.        Pertemuan Pertama
a.       Memahami makna iman kepada malaikat
b.      Hukum beriman kepada malaikat
c.       Dalil tentang penciptaan malaikat
d.      Perbedaan antara malaikat dan makhluk gaib lain
e.       Jumlah malaikat

2.        Pertemuan Kedua
a.       Hikmah beriman kepada malaikat
b.      Menerapkan perilaku mulia
c.       Penugasan proyek

3.        Pertemuan Ketiga
a.    Refleksi diri
b.    Ulangan harian 1

F.   Pendekatan, Model dan Metode
Pendekatan saintifik, Model Discovery Based Learning, Metode Diskusi, Tanya Jawab, dan Penugasan.

G. Kegiatan Pembelajaran
1.Pertemuan 1
Kegiatan
Deskripsi kegiatan
Karakter Yang Dikembangkan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
1.      Guru mengucapkan salam, memimpin berdoa, dan memeriksa kehadiran peserta didik.
2.      Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran tentang pengertian iman kepada malaikat dan dalil naqli tentang malaikat.
3.      Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait dengan materi yang akan dipelajari.
4.      Guru mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untuk mempelajari materi pengertian iman kepada malaikat.
5.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai.
6.      Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas tentang cara beriman yang benar kepada malaikat dan memperdalam pengetahuan tentang iman kepada malaikat dengan cara menggali penjelasan dalam dalil-dalil Alquran.
Religius, disiplin, dan menghargai orang lain
15 menit
Inti
 a. Stimulation
1.    Guru membuka kesempatan secara luas dan bervariasi kepada peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan membaca dan melihat tentang renungan dan membaca materi mengenai perngertian iman kepada malaikat dari buku Kreatif Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X Semester 2 terbitan CV VIVA PAKARINDO, halaman 1 s.d. 10.
2.    Guru memfasilitasi peserta didik melakukan pengamatan untuk melatih peserta didik dalam memperhatikan hal penting tentang pengertian iman kepada malaikat.
b. Problem statemen
1.      Guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai pengertian iman kepada malaikat yang sudah diamatinya.
2.      Guru membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan secara mandiri.
3.      Guru mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik dari pertanyaan yang telah diajukan.
4.      Guru membimbing peserta didik untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari berbagai sumber.
c. Data collection
1.      Guru membimbing peserta didik untuk menggali dan mengumpulkan informasi tentang perbedaan malaikat dengan makhluk gaib lain dan jumlah malaikat dari berbagai sumber melalui berbagai cara.
2.      Peserta didik mengkaji dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber serta membuat laporan tentang cara beriman yang benar kepada malaikat.
3.      Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari lima peserta didik untuk mengkaji dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber serta membuat laporan untuk memperdalam pengetahuan tentang malaikat dengan cara menggali penjelasan dalam dalil-dalil Alquran.
d. Verification
1.      Peserta didik melakukan kegiatan tanya jawab tentang perbedaan malaikat dengan makhluk gaib lain dan jumlah malaikat serta nama-nama dan tugasnya.
2.      Peserta didik merumuskan simpulan dari hasil tanya jawab tentang perbedaan malaikat dengan makhluk gaib lain dan jumlah malaikat serta nama-nama dan tugasnya.
e. Generalization
1.      Peserta didik menyusun bahan paparan tentang perbedaan malaikat dengan makhluk gaib lain dan jumlah malaikat serta nama-nama dan tugasnya.
2.      Peserta didik mempresentasikan hasil kegiatan tentang perbedaan malaikat dengan makhluk gaib lain dan jumlah malaikat serta nama-nama dan tugasnya di depan kelas.
3.      Guru menilai hasil presentasi dan bertanya jawab sebagai hasil belajar peserta didik.
Teliti, mandiri, gemar membaca, tanggung jawab.















Rasa ingin tahu, komunikatif














Mandiri, rasa ingin tahu,






















Komunikatif, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, tanggung jawab.







Komunikatif, tanggung jawab.
105 menit
Penutup
1.      Guru bersama peserta didik membuat rangkuman/simpulan pembelajaran.
2.      Guru melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
3.      Guru memberi umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
4.      Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling, dan/atau tugas individual atau kelompok sesuai hasil belajar peserta didik.
5.      Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Menghargai prestasi, religious, disiplin.
15 menit

Pertemuan 2
Kegiatan
Deskripsi kegiatan
Karakter Yang Dikembangkan
Waktu
Pendahuluan
1.      Guru mengucapkan salam, memimpin berdoa, dan memeriksa kehadiran peserta didik.
2.      Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran tentang pengertian iman kepada malaikat dan dalil naqli tentang malaikat.
3.      Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait dengan materi yang akan dipelajari.
4.      Guru mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untuk mempelajari materi pengertian iman kepada malaikat dan dalil tentang malaikat.
5.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai.
6.      Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas tentang cara beriman yang benar kepada malaikat dan memperdalam pengetahuan tentang malaikat dengan cara menggali penjelasan dalam dalil-dalil Alquran.
Religius, disiplin, dan menghargai orang lain
15 menit


Inti
 a. Stimulation
1)        Guru membuka kesempatan secara luas dan bervariasi kepada peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan membaca tentang nama-nama malaikat dan hal-hal yang berkaitan dengan malaikat dari buku Kreatif Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X Semester 2 terbitan CV VIVA PAKARINDO, halaman 1 s.d. 10.
2)        Guru memfasilitasi peserta didik melakukan pengamatan untuk melatih peserta didik dalam memperhatikan hal penting tentang nama-nama malaikat dan hal-hal yang berkaitan dengan malaikat.
b. Problem statement
1)        Guru meminta peserta didik untuk membuka buku Kreatif Kreatif Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X Semester 2 terbitan CV VIVA PAKARINDO, halaman 11 pada bagian “PROYEK”
2)        Guru memberikan proyek kepada peserta didik untuk mencari bahan-bahan dari internet yang berkaitan dengan malaikat. Selain itu, peserta didik juga ditugaskan untuk
c. Data collection
1)        Guru membagi kelompok belajar siswa.
2)        Guru mengatur alokasi waktu peserta didik dalam menyusun tugas proyek yang diberikan.
3)        Peserta didik mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru secara berkelompok.
d. Verivication
1)      Guru memeriksa kemajuan proyek yang dibuat oleh peserta didik sambil menanyakan apabila ada kesulitan.
e. Generalization
1) Peserta didik menyusun bahan paparan tentang nama-nama malaikat dan hal-hal yang berkaitan dengan malaikat serta dalil-dalil dalam Al Quran yang berkaitan dengan penciptaan malaikat, nama-nama beserta tugasnya.
2) Peserta didik mempresentasikan hasil kegiatan tentang nama-nama malaikat dan hal-hal yang berkaitan dengan malaikat di depan kelas.
3)  Guru menilai hasil presentasi dan bertanya jawab sebagai hasil belajar peserta didik.
Teliti, mandiri, gemar membaca, tanggung jawab.














Rasa ingin tahu, komunikatif











Mandiri, rasa ingin tahu,







Komunikatif, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, tanggung jawab.
Komunikatif, tanggung jawab.
65 menit
Penutup
1.      Guru bersama peserta didik membuat rangkuman/simpulan pembelajaran.
2.      Guru melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
3.      Guru memberi umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
4.      Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling, dan/atau tugas individual atau kelompok sesuai hasil belajar peserta didik.
5.      Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Menghargai prestasi, religious, disiplin.
10 menit

Pertemuan 3
Kegiatan
Deskripsi kegiatan
Karakter Yang Dikembangkan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
1.      Guru mengucapkan salam, memimpin berdoa, dan memeriksa kehadiran peserta didik.
2.      Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran tentang pengertian iman kepada malaikat dan dalil naqli tentang malaikat.
3.      Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait dengan materi yang akan dipelajari.
4.      Guru mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untuk mempelajari materi pengertian iman kepada malaikat dan dalil tentang malaikat.
5.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai.
6.      Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas tentang cara beriman yang benar kepada malaikat dan memperdalam pengetahuan tentang malaikat dengan cara menggali penjelasan dalam dalil-dalil Alquran.
Religius, disiplin, dan menghargai orang lain
15 menit
Inti
a.      Stimulation
1)   Guru bersama-sama dengan peserta didik mereview materi-materi yang sudah dipelajari sebelumnya tentang beriman kepada malaikat dari buku Kreatif Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X Semester 2 terbitan CV VIVA PAKARINDO, halaman 1 s.d. 10.


b.    Problem Statement
1)      Guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai pengertian iman kepada malaikat yang sudah diamatinya.
2)      Guru membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan secara mandiri.
3)      Guru mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik dari pertanyaan yang telah diajukan.
c.    Data Collection
Ulangan Harian 1
1)   Peserta didik mengerjakan soal-soal ulangan harian 1 dari buku Kreatif Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X Semester 2 terbitan CV VIVA PAKARINDO, halaman 12 s.d. 15 secara mandiri.
d.    Verification
1.      Peserta didik bersama-sama dengan guru mengoreksi hasil pekerjaan peserta didik dengan membuka kembali materi yang sudah dipelajari.
e.       Generalization
1)      Peserta didik mengumpulkan pekerjaan yang sudah dikoreksi.
2)      Guru menilai hasil belajar peserta didik.
Teliti, mandiri, gemar membaca, tanggung jawab.








Rasa ingin tahu, komunikatif










Mandiri, rasa ingin tahu, jujur, tanggung jawab.





Teliti, komunikatif, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, tanggung jawab.
Komunikatif, tanggung jawab.
65 menit
Penutup
1.      Guru memberi umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
2.      Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling, dan/atau tugas individual atau kelompok sesuai hasil belajar peserta didik.
3.      Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Menghargai prestasi, religious, disiplin.
1.      enit

H.    Penilaian, Pembelajaran Remedi, dan Pengayaan
1.      Sikap Spiritual (Pertemuan Pertama s.d. Pertemuan Ketiga)
a.         Teknik penilaian   : observasi guru
b.        Bentuk instrumen : lembar observasi sikap spiritual
c.         Kisi-kisi
No
Sikap/Nilai
Butir Instrumen
1
Berdoa sebelum dan sesudah mengikuti pelajaran
1
2
Menerapkan nilai-nilai keimanan kepada malaikat
2
*Instrumen: Terlampir (Lampiran 1)

2.      Sikap Sosial (Pertemuan Pertama s.d. Pertemuan Ketiga)
a.         Teknik Penilaian       : Observasi Guru
b.        Bentuk Instrumen     : Lembar Observasi Sikap Sosial
c.         Kisi-kisi
No
Sikap/Nilai
Butir Instrumen
1
Mawas diri
1
2
Taat beribadah
2
3
Jujur
3
4
Rasa ingin tahu
4
5
Kedisiplinan
5
              *Instrumen: Terlampir (Lampiran 2)

3.      Pengetahuan (Pertemuan Ketiga)
a.       Teknik penilaian   : tes tertulis
b.      Bentuk instrumen : soal pilihan ganda dan soal uraian


c.       Kisi-kisi
No.
Indikator
Butir lnstrumen
1.
Menjelaskan tentang pengertian iman kepada malaikat.
1
2.
Menjelaskan tentang dalil naqli dan dalil aqli tentang malaikat.
2
3.
Menjelaskan tentang nama-nama malaikat.
3
4.
Menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan malaikat.
4
5.
Menjelaskan tentang balasan amal baik dan buruk.
5
6.
Menjelaskan tentang hikmah beriman kepada malaikat.
6
7.
Menjelaskan tentang penerapan hikmah beriman kepada malaikat.
7
*Instrumen: Terlampir (Lampiran 3)

4.      Ketrampilan (Pertemuan Pertama s.d. Pertemuan Ketiga)
a.       Teknik penilaian   : tes praktik
b.      Bentuk instrumen : unjuk kerja
c.       Kisi-kisi
No
Sikap/Nilai
Butir Instrumen
1
Menerjemahkan ayat-ayat Al Quran
1
2
Diskusi
2
3
Penyusunan Laporan
3
*Instrumen: Terlampir (Lampiran 3)

5.      Pembelajaran Remidi dan Pengayaan
Teknik penilaian dan bentuk instrumen disesuaikan dengan pembelajaran remedi dan pengayaan yang ditetapkan oleh guru.

Mengetahui
Kepala Sekolah



Dra. Ummi Rosydiana, M.Par
NIP. 19670628 199303 2 002
Semarang, 03 Januari 2017
Guru Mata Pelajaran,



Drs. H. Mundakir
NIP. 19650304 199203 1 013
LAMPIRAN
Lampiran 1
Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
Lembar Observasi Sikap Spiritual
No
Perilaku yang Diharapkan
Skor
1
Melakukan doa sebelum dan sesudah pelajaran

2
Mengamalkan nilai-nilai keimanan kepada malaikat dalam kehidupan sehari-hari

Jumlah Skor maksimal = 8


Nilai sikap spiritual =  x 100
Lembar Observasi Sikap Sosial
No
Perilaku yang Diharapkan
Skor
1
Bersikap mawas diri sebagai cerminan dari kesadaran beriman kepada malaikat

2
Selalu taat beribadah sebagai cerminan dari kesadaran beriman kepada malaikat

3
Bersikap jujur dan tanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

4
Memiliki rasa ingin tahu terhadap materi yang akan diberikan

5
Menaati peraturan dalam mengikuti pembelajaran

Jumlah Skor maksimal = 20


Nilai sikap sosial =  x 10


Petunjuk Penilaian Sikap Spiritual dan Sosial
Skor
Nilai Kualitatif
4
Sangat Baik
3
Baik
2
Cukup
1
Kurang




Rubrik Penilaian Sikap Spiritual dan Sosial
Rentang Skor
Nilai
Nilai Kualitatif
76 – 100
A
Sangat Baik
51 – 75
B
Baik
25 – 50
C
Cukup
< 25
K
Kurang


Lampiran 2
Penilaian Pengetahuan
Lembar Penilaian Soal Pilihan Ganda dan Soal Uraian
No.
Lndikator
Butir Soal
1.
Indikator 1 = 2 Soal
1 Soal pilihan ganda
1 Soal uraian
Uraian: A1
Uraian:
B1
2.
Indikator 2 = 5 Soal
4 Soal pilihan ganda
1 Soal uraian
Pilihan ganda: A2, A3, A4, A20
Uraian:
B2
3.
Indikator 3 = 6 Soal
5 Soal pilihan ganda
1 Soal uraian
Pilihan ganda:
A5, A6, A8, A12, A17
Uraian:
B3
4.
Indikator 4 = 1 Soal
1 Soal pilihan ganda
- Soal uraian
Pilihan ganda: A7
Uraian:
-
5.
Indikator 5 = 4 Soal
4 Soal pilihan ganda
- Soal uraian
Pilihan ganda:
A9, A10, A11, A16
Uraian:
-
6.
Indikator 6 = 2 Soal
2 Soal pilihan ganda
- Soal uraian
Pilihan ganda: A14, A19
Uraian:
-
7.
Indikator 7 = 2 Soal
1 Soal pilihan ganda
1 Soal uraian
Pilihan ganda: A13
Uraian:
B5
8.
Indikator 8 = 3 Soal
2 Soal pilihan ganda
1 Soal uraian
Pilihan ganda: A15, A18
Uraian:
B4

Petunjuk Penilaian Soal Pilihan Ganda
Nomor Soal
Bobot Soal
1-20
5

Jumlah skor maksimal = 100
Nilai pilihan ganda      =  x 100

Petunjuk Penilaian Soal Uraian
No.
Butir Pertanyaan
Bobot
Soal
Kriteria
Skor
0
5
10
15
20
1.
Soal uraian nemer 1 Ulangan Harian 1
20






2.
Soal uraian nemer 2 Ulangan Harian 1
20






3.
Soal uraian nemer 3 Ulangan Harian 1
20






4.
Soal uraian nemer 4 Ulangan Harian 1
20






5.
Soal uraian nemer 5 Ulangan Harian 1
20






Jumlah sker maksimal
100



Nilai Uraian     =  x 100
Nilai akhir       =  x 100

Lampiran 3
Penilaian Ketrampilan
Lembar Penilaian Ketrampilan

No.

Aspek yang Dinilai

Penilaian
1
2
3
4
1.
Keterampilan menerjemahkan ayat-ayat Alquran dan kandungan ayat-ayat Alquran.




2.
Keterampilan diskusi.




3.
Keterampilan menyusun laporan.





Jumlah skor





Petunjuk Penilaian Ketrampilan
Skor
Nilai Kualitatif
4
Sangat Baik
3
Baik
2
Cukup
1
Kurang

Rubrik Penilaian Ketrampilan
Rentang Skor
Nilai
Nilai Kualitatif
76 – 100
A
Sangat Baik
51 – 75
B
Baik
25 – 50
C
Cukup
< 25
K
Kurang
Nilai Ketrampilan        =  x 100


Rabu, 30 Maret 2016

PENGENDALIAN EMISI KENDARAAN DENGAN PENGONTROLAN PEMBAKARAN PADA RUANG BAKAR


MAKALAH
PENGENDALIAN POLUSI KENDARAAN
“PENGENDALIAN EMISI KENDARAAN DENGAN PENGONTROLAN PEMBAKARAN PADA RUANG BAKAR”



Dosen Pengampu
Drs. Supraptono, M.Pd.
A. Mustamil Khoiron, S.Pd.,M.Pd.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2016



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Akhir-akhir ini sebagian besar masyarakat di dunia terfokus pada perubahan iklim global yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan merupakan salah satu masalah penting yang sedang dihadapi oleh beberapa negara di dunia saat ini, tidak terkecuali Indonesia. Di mana permasalahan tersebut semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan urbanisasi di kota-kota besar. Permasalahan yang hingga saat ini masih menjadi pembicaraan hangat adalah adanya pemanasan global (global warming) yang disebabkan oleh pencemaran udara.

Pencemaran udara sangat mengganggu kenyamanan dan bahkan telah menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan serta keseimbangan iklim global. Menurunnya kualitas udara tersebut terutama disebabkan karena banyaknya penggunaan bahan bakar fosil pada sarana transportasi dan industri di hampir seluruh daerah di dunia.

Untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak pencemaran udara terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan perlu adanya upaya-upaya nyata dari semua pihak. Upaya ini meliputi pencegahan dan peanggulagan pencemaran serta pemulihan udara dengan melakukan invetarisasi mutu udara ambien, pencegahan sumber pencemar baik sumber bergerak maupun sumber tidak bergerak, serta penanggulangan keadaan darurat akibat pencemaran udara.

Salah satu sumber pencemaran udara terbesar adalah sarana transportasi dengan sistem penggerak motor bakar, di mana terjadi pembakaran akan selalu menghasilkan emisi atau gas buang. Gas-gas sisa yang dihasilkan oleh pembakaran tidak selalu berupa uap air dan CO2 namun juga seringkali mengandung gas-gas berbahaya, seperti CO, NOx, dan HC. Produksi gas-gas berbahaya tersebut dapat dikendalikan dengan beberapa cara, antara lain pengontrolan udara dan bahan bakar pada motor bakar, pengontrolan proses pembakaran pada ruang bakar, dengan penambahan Catalistic Converter pada saluran buang, dan Exhaust Gas Recirculating System (EGR System). Untuk itu, perlu adanya pembahasan mengenai bagaimana langkah-langkah pengendalian tersebut dan bagaimana pengaruhnya terhadap gas buang kendaraan. Namun, pada kesempaan kali ini kami hanya akan mengambil topik untuk di bahas dalam makalah ini yaitu pengendalian polusi kendaraan dengan cara pengontrolan proses pembakaran pada ruang bakar.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai beriut:
1.        Apa sajakah treatment yang dapat dilakukan untuk mengontrol pembakaran pembakaran pada ruang bakar?

C.      Tujuan
Dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.        Untuk mengetahui treatment apa saja yang dapat dilakukan dalam pengendalian pembakaran pada ruang bakar.



BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Sistem Pengapian
Motor pembakaran dalam (internal combustion engine) mengahasilkan tenaga dengan jalan membakar campuran udara dan bahan bakar pada silinder. Pada motor bensin, loncatan bunga api pada busi diperluakan untuk menyalakan campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresikan oleh torak di dalam silinder.

Karena pada motor bensin proses pembakaran di mulai oleh loncatan bunga api pada busi, maka diperlukan suatu sistem yang berfungsi menghasilkan loncatan bunga api pada busi, untuk beberapa metode diperlukan untuk menghasilkan arus tegangan tinggi yang diperlukan untuk proses pembakaran. Sistem pengapian (ignition sistem) pada motor bensin berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi 10KV atau lebih dengan mempergunakan ignition coil dan kemudian oleh distributor di bagi bagi ke busi melalui kabel tegangan tinggi. Karena pada saat campuran bahan bakar – udara di kompresikan dalam silinder, sangat sulit bagi bunga api untuk melewati udara, maka tegangan yang di berikan pada busi harus cukup tinggi untuk dapat membangkitkan bunga api yang kuat. Dan apabila sistem pengapian tidak bekerja, maka mesin akan mati. Oleh karena itu sistem pengapian harus mempunyai ketahanan yang cukup untuk menahan getaran dan panas yang di bangkitkan oleh mesin, demikian juga tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh sistem pengapian itu sendiri.

Sitem pengapian terdiri dari sistem pengapian konvensional, elektronik dan computer. Komponen dari sistem pengapian terdiri dari batri, koil, distributor atau ECU, dan busi.

B.       Sistem Pengapian Konvensional
Sistem pengapian konvensional adalah salah satu sistem pengapian pada motor bensin yang masih bekerja secara mekanik yaitu dengan menggunakan platina untuk memutus hubungkan arus primer koil, yang nantinya bertujuan untuk menghasilkan induksi tegangan tinggi pada kumparan sekunder koil yang akan disalurkan ke masing masing busi.
Gambar 2 sistem pengapian konvensional

Sistem pengapian konvensional mempunyai beberapa kelemahan dilihat dari cara kerjanya yang masih menggunakan prinsip mekanik yaitu :
a.         Diperlukan penyetelan celah platina yang tepat
b.        Terjadinya oksidasi pada permukaan breaker point sehingga memperbesar hambatan pada permukaan breaker point
c.         Permukaan breaker point yang cepat aus sehingga diperlukan pengecekan secara berkala
d.        Permukaan breaker point yang tidak boleh kotor
Dari point point tersebut seluruhnya berpengaruh terhadap performa dari sistem pengapian konvensional karna pada prinsipnya arus yang melewati kumparan primer apabila berubah tegangannya akan mempengaruhi keseluruhan kerja dari sistem pengapian konvensional itu sendiri sehingga dapat juga mempengaruhi kesetabilan kinerja mesin pada setiap rpm.

C.      Sistem Pengapian Elektronik
Sistem pengapian elektronik atau sistem solid state transistorized ignition yang biasa disebut sistem pengapian transistor, memanfaatkan transistor untuk memutus dan mengalirkan arus primer koil untuk menghapuskan kerja mekanik dari breaker point sehingga sistem pengapian diharapkan akan bekerja lebih optimal. Jika pada sistem pengapian konvensional pemutusan arus primer koil dilakukan secara mekanis dengan membuka dan menutup kontak pemutus, maka pada sistem pengapian elektronik pemutusan arus primer koil dilakukan secara elektronis melalui suatu power transistor yang difungsikan sebagai saklar (switching transistor).

Pada sistem pengapian transistor signal generator dipasang di dalam distributor untuk menggantikan breaker point (platina) dan cam. Signal generator membangkitkan tegangan untuk mengaktifkan transistor pada igniter untuk memutus arus primer pada ignition coil.
Sistem pengapian transistor mempunyai keuntungan :
1.        Tidak memerlukan perawatan (penyetelan/penggantian platina) sehingga mengurangi biaya pemeliharaan.
2.        Tidak ada kontak logam dengan logam, sehingga tidak terjadi keausan dan penurunan tegangan primer.


Gambar 3 sistem pengapian elektronika

D.      Saat Pengapian dan Pembakaran
Setelah campuran bahan bakar dibakar oleh bunga api listrik, maka diperlukan waktu tertentu bagi bunga api untuk merambat di dalam ruang bakar. Oleh sebab itu akan terjadi sedikit kelambatan antara awal pembakaran dengan pencapaian tekanan pembakaran maksimum. Oleh karenanya, agar diperoleh output maksimum pada engine dengan tekanan pembakaran mencapai titik tertinggi (sekitar 10ΒΊ setelah TMA), periode perlambatan api harus diperhitungkan pada saat menentukan saat pengapian (Ignition timing) untuk memperoleh output mesin yang semaksimal mungkin. Akan tetapi karena diperlukan waktu untuk perambatan api, maka campuran udara dan bahan bakar harus dibakar sebelum TMA. Saat terjadinya pembakaran ini disebut dengan saat pengapian (Ignition Timing).

Loncatan bunga api terjadi sesaat piston mencapai titik mati atas (TMA) sewaktu langkak kompresi. Saat loncatan api biasanya dinyatakan dalam derajat sudut engkol sebelum piston mencapai TMA. Pada pembakaran sempurna setelah penyalaan dimulai, api menjalar dari busi dan menyebar keseluruh arah  alam waktu yang sebanding, dengan 20 derajat sudut engkol atau lebih, untuk membakar campuran sampai mencapai tekanan maksimum. Kecepatan api umumnya kurang dari 10 – 30 m/ detik. Panas pembakaran dari TMA diubah dalam bentuk kerja dengan efisiensi yang tinggi. Kelambatan waktu akan menurunkan efisiensi dan ini disebabkan rendahnya tekanan akibat pertambahan volume dan waktu penyebaran api yang terlalu lambat.

Bila Proses pembakaran dimulai dari awal sebelum TMA (menjauhi TMA), tekanan hasil pembakaran meningkat, sehingga gaya dorong piston meningkat (kerja piston menuju gas pada ruang bakar). Jika proses sudut penyalaan dimundurkan mendekati TMA, maka tekanan hasil pembakaran maksimum lebih rendah, bila dibandingkan tekanan hasil pembakaran maksimum, bila sudut penyalaan dimulai normal. Hal ini dikarenakan, pada saat sudut penyalaan yang terlalu dekat dengan TMA, pada saat busi memercikkan bunga api dan api mulai merambat, gerakan piston sudah melewati TMA, sehingga volume ruang bakar mulai membesar. Sehingga walaupun terjadi kenaikan tekanan hasil pembakaran, sebagian telah diubah menjadi perubahan volume ruang bakar. Efek yang terjadi adalah kecilnya kerja ekspansi yang diterima oleh piston.

E.       Emis Gas Buang
Emisi gas buang memang tidak dapat dihilangkan sekaligus, mengingat kebutuhan masyarakat akan transportasi yang semakin tinggi. Alternatif yang muncul dapat berupa penggunaan kendaraan yang bebas polusi dengan penggerak listrik, ataupun dengan memperbaiki ataupun menciptakan system yang lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu, sebagai sumber penghasil emisi, kendaraan yang memperoleh tenaga dari hasil pembakaran didalam silinder telah mendapatkan sentuhan teknologi tinggi baik dari penggunaan bahan bakar, mekanisme kerja maupun system kerja yang lebih efektif dan efisien.

Disamping untuk memenuhi tuntutan pemakai kendaraan dan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, produksi kendaraan mengacu pada beberapa kriteria produk yang umum digunakan adalah : 1) Hemat bahan bakar, 2) Rendah emisi, 3)Performa tinggi / maksimal, 4)Tingkat kebisingan yang cukup rendah, 5)Kwalitas kenyamanan yang semakin baik, dll.



BAB IV
PEMBAHASAN

Emisi atau gas buang sisa pembakaran kendaraan bermotor harus terbebas dari gas-gas yang berbahaya. Untuk itu, gas sisa pembakaran perlu dikontrol. Pengontrolan dapat dilakukan dari beberapa sisi, salah satunya adalah pengontrolan pembakaran pada ruang bakar. Berikut akan dibahas treatment atau perlakuan yang dapat dilakukan untuk mengurangi gas-gas berbahaya dari sisa pembakaran.

A.      Pembaruan Konstruksi Mesin
1.        Perbandingan kompresi (compression rasio)
Dalam batas-batas tertentu, perbandingan tekanan kompresi yang tinggi meningkatkan kinerja pembakaran mesin, sehingga otomatis pemakaian bahan bakar lebih hemat dan emisi lebih rendah. Namun, tekanan kompresi tinggi cenderung megakibatkn  masalah ngelitik-knocking dan menghasilkan emisi yang tinggi, yang disebabkan oleh kenaikan suhu dalam ruang bakar. Kecenderungan ini bisa diatas denga menggunakan bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi.

2.        Ruang bakar
Bentuk ruang bakkar mempengaruhi kerjaa pembakaran dan emsi yang dikeluarkan, terutama HC. Ruang bakar yang berbentuk rumit dan terlalu luas cenderung membuat campuran udara-bensin tidak terbakar dengan sempurrna. Ruang bakar ideal yang berbentuk sederhana, dan volume tdak terlalu besar sehingga bensi-udara dapat berputar masuk ke dalam ruang bakar dan bercampur lebih homogen. Penempatan busi yang baik pada ruang bakar, sebaiknya berada ditengah ruang bakar sehingga campuran bensin-udara dapat terbakar lebh merata dan sempurna.

3.        Mekanisme katup
Saluran masuk (intake manifold) dirancang mempunyai panjang leher yang sama. Hal ini menghasilkan pemasukkan udara pada tiap silinder sebanding sehingga pembakaran menjadi lebih stabil. Masalah overaping (katup masuk dan keluar membuka bersama) dapat dikurangi dengan pemanfaatan teknologi, misalnya VANOS dan V-TEC. Pada sistem tersebut, pembukaan katup dibantu dengan control elektronik mekannis. Hal ini menghasilkan efisiensi volumetric yang lebih baik sehingga emisi (HC) gas buang yang dihasilkan juga menjadi lebih baik.

B.       Pembaruan Sistem dalam Mesin
1.        Sistem Pengapian Elektronik
Karakteristik pengapian yang stabil menghasilkan proses pengapian yang baik pada waktu putaran mesin rendah ataupun tinggi. Untuk mendapatkan karakteristik yang baik, perlu diterapkan sistem yang stabil dan komponen pendukung yang stabil pula.

2.        Timing Pengapian
Timing pengapian juga akan mempengaruhi hasil gas buang. Timing pengapian yang tidak tepat akan membuat kadar CO pada gas buang akan meingkat. Timing pengapian yang terlalu mundur mengakibatkan campuran udara dan bahan bakar tidak terbakar dengan sempurna, karena durasi pembakaran akan lebih cepat.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
1                Salah satu cara untuk mengendalikan emisi pada kendaraan adalah pengontrolan pada ruang bakar. Pengontrolan ruang bakar yang dapat dilakukan dibagi menjadi dua yaitu melalui konstruksi mesin dan sistem pengapian.

Saran
1.      Lakukan pengecekan taiming secara berkala untuk menhasilkan timing yang tepat



Daftar Pustaka

Engine Group Step 1, Toyota
Winarno, 2014, “Mesin Konversi Energi”, Universitas Negeri Semarang
Sutiman, 2014, “ UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA MELALUI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MOTOR BENSIN DAN EMS”,  Teknik Otomotif FT UNY
Syahril Machmud, Untoro Budi Surono, Leydon Sitorus, “PENGARUH VARIASI UNJUK DERAJAT PENGAPIAN TERHADAP KERJA MESIN Universitas Janabadra Yogyakarta
Arifin, Zainal, M.T dan Sukoco, M.Pd,2009, “Pengendalian Polusi Kendaraan, alfabet


Rabu, 23 Maret 2016

DI GUNUNG GRAVITASI LEBIH KECIL DARIPADA DI PANTAI

Udara di puncak gunung atau di dataran tinggi biasanya lebih dingin dibandingkan udara di dataran rendah atau di tempat yang berada di dekat permukaan laut. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, semakin dingin udara di tempat tersebut. Seharusnya udara di puncak gunung lebih panas karena puncak gunung lebih dekat dengan matahari πŸ˜‰ mengapa di puncak gunung lebih dingin ?
Menurut hukum gravitasi Newton, besar gaya gravitasi bumi pada suatu tempat berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara pusat bumi dengan tempat itu. Jadi semakin jauh suatu tempat dari pusat bumi, semakin kecil gayagravitasi bumi pada tempat tersebut. Dengan kata lain, semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, semakin kecil gaya gravitasi bumi pada tempat itu. Jadi gaya gravitasi bumi pada tempat di dekat permukaan laut atau di dataran rendah lebih besar daripada gaya gravitasi bumi di dataran tinggi atau di puncak gunung.
Selain menarik buah jatuh menuju permukaan tanah, menarik manusia sehingga kita tetap berkeliaran di permukaan tanah πŸ˜‰ , gaya gravitasi bumi juga menarik udara sehingga udara tetap berada di dekat permukaan bumi. Semakin besar gaya gravitasi bumi, semakin banyak udara yang ditarik, sebaliknya semakin kecil gaya gravitasi bumi, semakin sedikit udara yang ditarik. Gaya gravitasi bumi pada tempat di dekat permukaan laut lebih besar sehingga jumlah udara yang berada di dekat permukaan laut lebih banyak. Sebaliknya gaya gravitasi bumi di puncak gunung lebih kecil sehingga jumlah udara yang ada di puncak gunung lebih sedikit.
Udara terdiri dari molekul-molekul gas yang selalu bergerak dengan kecepatan tertentu. Setiap molekul gas yang bergerak mempunyai energi kinetik. Semakin banyak udara, semakin besar energi kinetik. Semakin cepat gerakan molekul udara, semakin besar energi kinetik. Jumlah udara di puncak gunung lebih sedikit sehingga energi kinetik udara lebih kecil. Sebaliknya jumlah udara pada tempat di dekat permukaan laut lebih banyak sehingga energi kinetik udara lebih besar.
Coba tumbukkan kedua tangan anda. Apa yang anda rasakan ? Tangan anda terasa hangat ketika terjadi tumbukan. Ketika tangan anda bergerak, tangan anda mempunyai energi kinetik. Besar atau kecilnya energi kinetik bergantung pada kecepatan gerak tangan anda dan massa tangan anda. Semakin cepat gerakan tangan anda sebelum kedua tangan anda bertumbukan, semakin hangat tangan anda akibat tumbukan. Jadi besar atau kecilnya energi kinetik menentukan panas atau dingin yang anda rasakan. Demikian juga dengan molekul-molekul gas atau udara. Molekul-molekul gas mempunyai massa dan ketika bergerak dengan kecepatan tertentu, molekul gas mempunyai energi kinetik. Besar atau kecilnya energi kinetik menentukan banyak atau sedikit panas yang dihasilkan ketika terjadi tumbukan antara molekul-molekul gas.
Udara di puncak gunung mempunyai energi kinetik lebih kecil sehingga panas yang dihasilkan ketika terjadi tumbukan antara molekul gas juga sedikit. Sebaliknya udara pada tempat di dekat permukaan laut mempunyai energi kinetik lebih besar sehingga panas yang dihasilkan ketika terjadi tumbukan antara molekul gas juga banyak. Selain itu, jika jumlah molekul gas sedikit maka peluang terjadinya tumbukan juga kecil. Jika jumlah molekul gas banyak maka peluang terjadi tumbukan lebih besar. Banyak atau sedikitnya jumlah tumbukan antara molekul juga menentukan banyak atau sedikit panas yang dihasilkan.

UJI KOMPETENSI SERVIS SEPEDA MOTOR INJEKSI

Memuat…